The Collection of My Study

Just another WordPress.com weblog

LAPORAN TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN PANGAN Juni 21, 2009

Filed under: Uncategorized — natyalaksmiputri @ 11:37 pm

LAPORAN PRAKTIKUM

Teknologi Budidaya Tanaman Pangan

Oleh        :

Natya Laksmi Putri              (A1D007032)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS PERTANIAN

ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN

PURWOKERTO

2008

PENDAHULUAN

Keanekaragaman tanaman pangan di Indonesia sangatlah bervariasi, misalnya saja beras, jagung, sagu dan juga umbi-umbian dan sebagainya.  Keanekaragaman pangan ini tidak dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dengan baik. Mereka selalu menganggap bahwa beras merupakan suatu makanan pokok bagi mereka. Hal inilah yang mendorong akan adanya tindakan diversifikasi pangan. Kegiatan diversifikasi pangan ini adalah kegiatan dimana adanya usaha untuk mencari bahan pangan alternatif. Usaha ini juga perlu didukung dengan adanya suatu budidaya tanaman pangan yang baik agar diversifikasi pangan dapat terealisasi dan produk pangan yang dihasilkan mempunya mutu atau kualitas baik.

Teknologi Budidaya Tanaman Pangan merupakan suatu kegiatan ilmu pertanian bagi tanaman pangan yang dimulai dari pengolahan lahan, menanam, panen dan hingga menjual. Didalam kegiatan budidaya ini kita diajarkan untuk dapat menghasilkan suatu tanaman bermutu dan berkualitas baik, agar hasil budidaya tanaman pangan yang diperoleh bisa maksimal, sempurna dan bermanfaat bagi seluruh khalayak.

Di dalam praktikum budidaya tanaman pangan ini terdapat lima percobaan yang semuanya berkaitan dengan usaha pencapaian hasil pangan yang baik. Percobaan ini yaitu perlakuan air terhadap benih, perlakuan cahaya terhadap pertumbuhan, perlakuan pupuk daun dan pupuk melalui tanah, pengenalan produk yang dihasilkan pada iklim yang berbeda, dan pengamatan antar varietas berbeda.

Semua kegiatan tersebut diharapkan dapat diterapkan langsung oleh mahasiswa, khususnya di bidang teknologi pangan, agar mahasiswa tidak hanya dapat mengolah suatu bahan pangan yang bervariasi dan mempunyai alternatif baru tetapi juga terjun langsung dalam kegiatan menghasilkan tanaman yang baik yang dimulai dari menanam hingga panen.

ACARA 1

PERLAKUAN AIR PADA BENIH

v    TUJUAN

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh air terhadap perkecambahan benih.

v   PUSTAKA

Benih merupakan biji tanaman yang akan mengalami proses perkecambahan untuk memperbanyak diri dan telah diseleksi dengan baik untuk digunakan sebagai awal mula pertumbuhan suatu tanaman Peningkatan produksi suatu tanaman dapat diperoleh dari mutu suatu benih yang baik. Benih yang baik dapat dilihat dari berbagai aspek, misal daya imun benih terhadap hama dan penyakit, bebas dari patogen atau penyakit. Ada salah satu cara yang sederhana untuk memperoleh benih yang baik, yaitu dengan merendam benih di dalam air, dan membuang benih yang terapung dan menggambil benih yang tenggelam, karena benih yang tenggelam tersebut merupakan benih yang baik untuk digunakan. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi perkecambahan suatu tanaman misal iklim, hama dan penyakit dan sisten penanaman , tetapi selain itu kita juga harus memperhatikan benih yang dipakai dalam penanaman tersebut untuk memperoleh hasil perkecambahan yang baik.

Gambar 1. Contoh Benih

Perkecambahan merupakan bentuk awal dari embrio yang berkembang menjadi sesuatu yang baru, yaitu tanaman anakan yang sempurna (memiliki radicle dan plumulae). Rangkaian proses-proses fisiologis yang berlangsung pada perkecambahan adalah penyerapan air secara imbibisi dan osmose,  pencernaan atau pemecahan senyawa menjadi bermolekul lebih kecil, sederhana, larut dalam air dan dapat diangkut, pengangkutan hasil pencernaan, asimilasi atau penyusunan kembali senyawa hasil pencernaan, pernafasan atau respirasi yang merupakan perombakan cadangan makanan, dan pertumbuhan pada titik-titik tumbuh. Proses-proses perkecambahan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan faktor-faktor lingkungan seperti air , O , cahaya dan suhu.                     Seperti yang telah disebutkan diatas, faktor perkecambahan suatu tanaman juga dipengaruhi oleh air. Air merupakan salah satu unsur yang penting (Rismundar.1984). Hal ini dikarenakan air mempunyai berbagai peran dan fungsi di dalam proses perkecambahan ini, diantaranya adalah berperan dalam melunakkan kulit biji, memfasilitasi masuknya O, pengenceran protoplasma untuk aktivasi fungsi , dan alat transportasi makanan. Kadar dan kapasitas airpun juga harus diperhatikan, walaupun air sangat berfungsi bagi tanaman, tetapi bila kapasitasnya tidak diperhatikan akan menghasilkan suatu tanaman yang kurang baik. Ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi perkecambahan suatu benih, salah satunya adalah unsur garam (NaCl) yang terkandung.  Kadar garam di suatu tanah atau yang biasa kita sebut salinitas sebenarnya kurang membawa pengaruh yang baik bagi tanaman. Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air (http://www.wikipedia.com.2008). Tanaman memerlukan asupan hara yang sesuai dengan kebutuhannya, oleh karena kadar garam itu dapat mempengaruhi permeabilitas membran sel dan penyerapan zat hara maka akan mempengaruhi jenis tumbuhan yang toleran dan tidak toleran (www.id.answers.yahoo.com/question.2008). Garam mempengaruhi pertumbuhan tanaman umumnya melalui keracunan yang  diakibatkan penyerapan unsur penyusun garam secara berlebihan, seperti sodium. Hal lain yang dipengaruhi oleh adanya unsur garam pada tanaman adalah penurunan penyerapan air, yang dikenal sebagai cekaman air dan penurunan dalam penyerapan unsur-unsur penting bagi tanaman khususnya potasium(www.elisa.ugm.ac.id.2008)

v     BAHAN DAN ALAT

¨Bahan

  1. Air
  2. Larutan garam
  3. Benih kacang panjang

¨      Alat

  1. 2 buah pitridis
  2. Kertas saring / kertas merang

v     CARA KERJA

  1. Memasukkan masing-masing 50 butir kacang panjang yang telah diseleksi  dengan   memasukkan dalam air ke dalam piridis. Mengganti benih yang melayang dan terapung.
  2. Mengatur letak benih kacang panjang dalam pitridis
  3. Menyemprot dengan larutan garam dan air
  4. Menyemprot  benih setiap hari dengan larutan yang sama
  5. Menghitung banyaknya benih yang berkecanbah selama 7 hari.
  6. Mencatat hasilnya dan membuat grafiknya.

Gambar 2. Pitridis berisi benih dengan air dan garam

v     HASIL PENGAMATAN

Hari

Perlakuan

1

2

3

4

5

6

7

Jumlah

Benih

Air

9

14

5

3

2

-

-

33
Garam

1

5

7

2

1

-

-

16

  • Daya Berkecambah Benih Pada Air

Jumlah Benih = 50

Yang berkecambah = 33

Daya Berkecambah =   Jumlah Berkecambah x100 %

Jumlah Benih

= 33 x 100 %

50

= 66 %

  • Daya Berkecambah Benih Pada Garam

Jumlah Benih = 50

Yang berkecambah = 16

Daya Berkecambah =   Jumlah Berkecambah x100 %

Jumlah Benih

= 16 x 100 %

50

= 32 %

v     PEMBAHASAN

Percobaan yang dilakukan mengenai perlakuan air pada benih ini disediakan dua jenis larutan yaitu air murni (aquades) dan larutan garam (NaCl). Perlakuan dilakukan dengan menyemprotkan pitridis yang berisi benih sebanyak 50 dengan aquades dan dengan larutan garam pada pitridis yang lainnya selama tujuh hari. Penyemprotan dilakukan sampai kertas merang pada pitridis itu tidak kering.  Banyaknya benih yang berkecambah tersebut dihitung untuk data pengamatan.

Hari pertama diperoleh sembilan buah benih yang berkecambah pada pitridis yang disemprot air dan pada pitridis yang disemprot air garam berjumlah satu benih yang berkecambah. Pada hari selanjutnya jumlah benih yang berkecambah sebanyak 14 benih pada perlakuan diberi air sedangkan pada yang diberi air garam sebanyak 5 benih. Keesokan harinya diamati lagi berapa jumlah benih yang berkecambah dan diperoleh hasil sebanyak 5 benih pada pitridis yang disemprot air dan 7 benih  yang disemprot garam. Pada hari kelima sampai hari ketujuh jumlah benih yang berkecambah berkurang yaitu dua buah pada pitridis yang disemprot air dan satu buah pada pitridis yang disemprot garam  Di hari keenam dan ketujuh sudah tidak ada yang berkecambah, bahkan benih sudah membusuk, hal ini dikarenakan adanya pemberian air dan karutan garam yang terlalu berlebih pada benih. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa tidak senua benih mengalami perkecambahan,ada yang mengalami masa dormansi yaitu masa dimana benih menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut.

Persentase dari daya berkecambah benih pada air dan larutan garam dapat dilihat dari jumlah benih yang berkecambah dibagi dengan jumlah benih yang digunakan pada awal percobaan dan dikalikan 100%. Dari uji coba yang dilakukan tersebut diperoleh suatu persentase dari perlakuan benih dengan air sebesar 66% dan pada perlakuan benih dengan garam diperoleh presentase sebesar 32%.

v     KESIMPULAN

Dari berbagai uraian diatas dapat diperoleh beberapa kesimpulan, diantaranya adalah :

  1. Unsur air didalam pertumbuhan suatu benih sangat diperlukan untuk meningkatkan daya perkecambahan benih tersebut, hal ini dikarenakan air mempunya banyak peran dalam membantu perkecambahan itu.
  2. Kadar garam atau salinitas yang terkandung di suatu tanaman kurang membawa pengaruh yang baik, hal ini dikarenakan karena garam menyerap asupan hara pada tanaman tersebut.
  3. Tidak semua benih berkecambah, ada yang mengalami masa dormansi bahkan ada yang mengalami pembusukkan.

DAFTAR PUSTAKA

Kamil,Jurnalis.Ph.D.,MSc.,Ir.1986.Teknologi Benih 1.Padang:Angkasa Raya.

Rismunandar. 1984. Air Fungsi dan Kegunaanya Bagi Pertanian. Bandung : Sinar Baru.

Sutopo, Lita.1988.Teknologi Benih.Jakarta : CV Rajawali.

www.elisa.ugm.ac.id. Diakses pada tanggal 11 Juni 2008.

www.fp.uns.ac.id. Diakses pada tanggal 11 Juni 2008.

www.id.answers.yahoo.com/question. Diakses pada tanggal 11 Juni 2008.

ACARA 2

PERLAKUAN CAHAYA PADA TUMBUHAN

v     TUJUAN

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan awal tanaman.

v     PUSTAKA

Sinar matahari diperlukan untuk fotosintesis dan pertumbuhan semua tanaman hijau. Agar dapat bermanfaat, sinar matahari harus diterima pada waktu air tersedia bagi pertumbuhan tanaman. Banyak jenis tanaman yang pertumbuhannya dan hasilnya secara langsung terkait pada sinar matahari yang diterima, sampai pada tingkatan yang paling tinggi, asalkan air tersedia. Jumlah sinar matahari efektif yang digunakan oleh tanaman tergantung dari type tanamannya. Beberapa tanaman memberikan hasil yang sangat baik di kawasan yang mempunyai penyinaran matahari agak rendah, lainnya memberikan hasil atau kualitas yang baik dengan penyinaran matahari yang tinggi (Williams,C.N.1993)

Dalam keadaan tidak tersedianya suatu cahaya, auksin merangsang pemanjangan sel-sel, sehingga tumbuhan tumbuh lebih panjang. Sebaliknya, dalam keadaan banyak cahaya, auksin mengalami kerusakan sehingga tumbuhan akan tumbuh lebih pendek.

Hasil tanaman yang baik diperoleh melalui perlakuan yang tepat pada tanaman. Untuk mendapatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman yang baik diperlukan adanya usaha-usaha perbaikan budidaya tanaman antara lain dengan mengatur intensitas cahaya yang tepat bagi tanaman karena intensitas cahaya berhubungan erat dengan aktifitas fotosintesis tanaman (www.agrisci.ugm.ac.id.2008).

Fotosintesis merupakan aktivitas yang merubah karbon anorganik (CO2) menjadi karbon organik oleh organisme berklorofil dengan adanya energi cahaya. Walaupun kadar karbon anorganik (CO2) di udara relatif kecil (360 ppm), namun lewat proses fotosintesis mampu menyediakan sumber karbon organik (karbohidrat) bagi semua kehidupan organisme di planet bumi ini. Fotosintesis merupakan proses penting dalam memerankan siklus karbon dan memelihara level CO2 di atmosfer sekaligus dalam waktu bersamaan juga memerankan siklus oksigen (www.elearning.unej.ac.id).

v     BAHAN DAN ALAT

¨      Bahan

  1. Benih kacang panjang
  2. Media pasir

¨      Alat

  1. 4 buah polybag bening / hitam
  2. Box plastik / kardus
  3. Kertas penutup

v     CARA KERJA

  1. Melubangi polybag dan mengisi dengan media pasir
  2. Menanam 2 benih kacang panjang ke dalam masing-masing polybag.
    1. Menaruh polybag ditempat yang cukup cahaya, dan polybag yang lainnya di tempat yang kurang cahaya.
    2. Menyiram setiap hari secukupnya
Hari

Tanaman

2

4

6

8

10

I

1,5

6

17,5

23

28

II

0,8

4,8

13

17

21

Rata-rata

1,15

5,4

15,25

20

24,5

v     HASIL PENGAMATAN

Tidak terkena Cahaya (Gelap)

Terkena Cahaya (Terang)

Hari

Tanaman

2

4

6

8

10

I

0,5

3,5

11

16,5

19,5

II

0,6

3,7

12

18

22,5

Rata-rata

0,55

3,6

11,5

17,25

21

v     PEMBAHASAN

Uji coba kali ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan tanaman. Percobaan ini dilakukan dengan menyediakan polybag sebanyak empat buah yang masing-masing sudah diisi oleh benih. Dua buah polybag digunakan untuk uji coba tanaman yang terkena cahaya (terang) dan dua buah polybag lainnya dugunakan untuk uji coba tanaman di tempat kurang cahaya (gelap). Percobaan ini diamati selama 10 hari dan tiap dua hari sekali diamati dan diukur tinggi tanamannya dan dirata-rata antara kedua polybag yang diletakkan di tempat yang sama.

Pada hari pertama pengamatan, baik tanaman di tempat terang maupun gelap, benih belum mengalami pertumbuhan. Selanjutnya pada hari kedua, tanaman yang diletakkan ditempat terang dan di tempat gelap keduanya sudah nampak adanya suatu pertumbuhan dari benih tersebut. Pada hari kedua rata-rata yang diperoleh dari tanaman di tempat terang memiliki tinggi sekitar 0,55 cm. Sedangkan di polybag yang diletakkan di tempat gelap memiliki rata-rata ketinggian sekitar 1,15 cm. Pengamatan terus dilakukan hingga hari ke-10. Hingga diakhir pengamatan diperoleh kembali suatu rata-rata tinggi tanaman sekitar  21 pada yang diletakkan di tempat cukup cahaya, dan 24,5 cm pada tanaman yang diletakkan di tempat gelap.

Dari hasil pengamatan yang diperoleh, tanaman yang diletakkan di tempat gelap lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan di tempat terang. Hal ini dikarenakan dalam keadaan tidak tersedianya suatu cahaya, auksin merangsang pemanjangan sel-sel, sehingga tumbuhan tumbuh lebih panjang. Sebaliknya, dalam keadaan banyak cahaya, auksin mengalami kerusakan sehingga tumbuhan akan tumbuh lebih pendek.

Hal lain yang menunjukkan suatu perbedaan antara tanaman yang diletakkan di tempat terang dengan tanaman yang diletakkan di tempat gelap adalah warna dari daunnya. Daun pada tanaman yang diletakkan di tempat gelap berwarna kuning, sedangkan daun yang diletakkan di tempat terang warnanya hijau. Perbedaan ini dipengaruhi karena tanaman yang terkena cahaya dapat membentuk klorofil, sedangkan tanaman yang kurang cahaya tidak dapat membentuk klorofil, dimana klorofil merupakan zat hijau daun yang diperlukan dalam proses fotosintesis.

v     KESIMPULAN

Dari percobaan mengenai pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan suatu tanaman dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :

  1. Tanaman memerlukan cahaya di dalam pertumbuhannya untuk membantu proses fotosintesis yang merupakan proses pembentukan zat makanan pada tanaman.
  2. Intesitas suatu cahaya  juga perlu diperhatikan agar jumlah cahaya yang masuk kedalam tumbuhan bisa cukup tidak kekurangan atau berlebihan agar pertumbuhannya bisa baik dan sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Sumaryono, Ir. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung : ITB

Williams, C.N. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropis Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

www.agrisci.ugm.ac.id. Diakses pada tanggal 11 Juni 2008

www.elearning.unej.ac.id. Diakses pada tanggal 11 Juni 2008

ACARA 3

PERLAKUAN PUPUK DAUN DAN PUPUK MELALUI  TANAH

v     TUJUAN

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk daun pada awal pertumbuhan tanaman

v     PUSTAKA

Pada zaman dahulu orang berpendapat bahwa tanaman mendapatkan zat makanan dari dalam tanah dalam bentuk zat organik (teori humus). Namun dari hasil penelitian yang telah diperoleh pada akhir abad ke-18 dan permulaan abad ke-19, telah mengubah pandangan dalam hal pemberian zat makanan pada tanaman bukan mengambil makanannya berupa zat organik dari dalam tanah, tetapi zat organik tersebut dihasilkan oleh tanaman. Oleh karena itu diperlukan suatu gas karbondioksida, air, berbagai macam garam.

Gas karbondioksida dan air merupakan zat makanan yang terpenting bagi tanaman. Persenyawaan-persenyawaan ini merupakan pensuplai dari unsur-unsur zat karbondioksida, hidrogen, dan oksigen, yang merupakan bahan utama yang harus ada, untuk membentuk bagian-bagian tertentu dari tubuh dan tanaman (Rinsema,WT.1983)

Tanaman memang memerlukan suatu bahan yang mengandung semua unsur yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Di dalam pupuk dapat terkandung semua unsur yang diperlukan tersebut. Pupuk merupakan zat yang ditambahkan pada tumbuhan agar berkembang dengan baik. Pupuk dapat dibuat dari bahan organik ataupun non-organik (www.wikipedia.com.2008). Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun

Pupuk mempunyai berbagai macam jenis, diantaranya adalah dibagi dua kelompok berdasarkan asalnya, yaitu :

  1. Pupuk  buatan (anorganik) seperti : Urea, ZA, TSP dan lain-lain
  2. Pupuk alam (organik) seperti : pupuk kandang, kompos, pupuk hijau dan lain-lain.

Berdasarkan cara pemberiannya, maka pupuk pun bisa dikelompokkan menjadi :

  1. Pupuk akar, yaitu segala jenis pupuk yang diberikan lewat akar atau yang diambil oleh akar tanaman dari dalam tanah, misalnya Urea, KCl dan lain-lain.
  2. Pupuk  daun, yaitu segala macam pupuk yang diberikan lewat daun dengan jalan penyemprotan.

Gambar 1. Salah satu contoh pupuk daun (Growmore)

Selain pembagian tersebut masih ada cara lain mengelompokkan pupuk  ini, yaitu dengan melihat unsur hara yang dikandungnya. Dengan cara pengelompokan ini maka dikenallah macam pupuk  sebagai berikut :

  1. Pupuk tunggal, yakni pupuk yang hanya mengandung satu (tunggal) unsur hara makro saja, misalnya urea : mengandung unsur hara Nitrogen (N).
  2. Pupuk majemuk, yakni pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara makra, misalnya DAP : mengandung unsur hara Nitrogen dan Fosfor.
  3. Pupuk lengkap, yaitu pupuk yang mengandung unsur hara lengkap secara keseluruhan (unsur makro dan unsur mikro).

Pemupukan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan hasil pertanian. Takaran pupuk yang digunakan unstuck memupuk satu jenis tanaman akan berbeda untuk masing-masing jenis tanah, hal ini dapat dipahami karena setiap jenis tanah memiliki karakteristik dan susunan kimia tanah yang berbeda. Beberapa hal penting yang perlu dicermati untuk mendapatkan efisiensi dalam pemupukan antara lain : jenis pupuk  yang digunakan, sifat dari pupuk  tersebut, waktu pemupukan dan syarat pemberian pupuk serta cara atau metode pemupukan. Dengan tingginya hasil tanaman yang dipanen, berarti jumlah unsur hara yang diambil oleh tanaman dari dalam tanah akan banyak pula karena pengambilan unsur hara dari dalam tanah berlangsung secara paralel terhadap pembentukan bahan kering atau produksi tanaman. Sehingga untuk tahun-tahun pertanaman berikutnya unsur hara yang berada didalam tanah lambat laun akan terus berkurang. Salah satu cara untuk mengembalikan tingkat kesuburan tanah tersebut adalah dengan melaksanakan pemupukan (www.pusri.wordpress.com.2008)

v     BAHAN DAN ALAT

¨      Bahan

  1. Benih kacang panjang
  2. Media pasir
  3. Pupuk makro NPK
  4. Pupuk daun Gandasil D atau Growmore

¨      Alat

  1. 6 buah polybag bening / hitam
  2. Sprayer / semprotan

v     CARA KERJA

  1. Menanam benih kacang panjang 1 benih per polibag yang telah diisi dengan media tumbuh(yaitu pasir) sebanyak 6 polibag, kemudian menyiramnya.
  2. Memberi keterangan untuk masing – masing polibag sebagai berikut:
  • P=Benih kacang panjang (1) yang tidak dipupuk selama pengamatan(sebagai kontrol).
  • P=Benih kacang panjang (2) yang tidak dipupuk selama pengamatan(sebagai kontrol).
  • P=Benih kacang panjang (1) yang dipupuk melalui tanah selama pengamatan.
  • P    =Benih kacang panjang (2) yang dipupuk melalui tanah selama pengamatan.
  • P=Benih kacang panjang(1) yang dipupuk melalui daun selama pengamatan.
  • P=Benih kacang panjang(2) yang dipupuk melalui daun selama pengamatan.

3.   Meletakkan polibag pada tempat yang terkena cahaya 40 persen.

4.   Setelah tumbuh kecambah, memperlakukan masing – masing polibag sesuai dengan keterangan.

5.   Mengamati dan mengukur tinggi tanaman dan jumlah daun yang tumbuh tiap 2 hari sekali.

6.   Mencatat hasil pengamatan pada data pengamatan

v     DATA PENGAMATAN

Hari

2

4

6

8

10

12

14

P

-

9*

15**

20**

23**

26***

28***

P

-

6*

13**

15**

18**

21,5**

25**

Rata-rata

-

7,5

14

17,5

20,5

23,75

26,5

Hari

2

4

6

8

10

12

14

P

-

2*

12**

15**

18,5**

22**

25**

P

-

4*

13**

17**

21**

24**

28***

Rata-rata

-

3

12,5

16

19,75

23

26,5

Hari

2

4

6

8

10

12

14

P

-

4,2**

13**

16**

20**

24***

27***

P

-

4**

11**

15***

19**

26**

30***

Rata-rata

-

4,1

12

15,5

19,5

25

28,5

Keterangan :

¨Diukur dalam cm

¨      Kegiatan pemupukan daun dilakukan sebanyak dua kali di dalam pengamatan ini yaitu :

- Pemupukan pertama dilakukan pada hari keempat atau setelah tumbuh daun

- Pemupukan kedua dilakukan pada hari ke delapan

¨      *  = jumlah daun sebanyak 1 helai

** = jumlah daun sebanyak 2 helai

dan seterusnya

v     PEMBAHASAN

Hasil pengamatan kali ini diperoleh dari hasil percobaan yang dilakukan dengan menggunakan 6 buah polybag yang sudah diisi tanah dan diberi benih. Setelah itu polybag yang ditulisi dengan  P dan P ditanam tanpa diberi pupuk apapun. Pada polybag yang bertuliskan P dan P diberi perlakuan berupa pemberian pupuk daun. Sedangkan dua buah polybag yang terakhir diberi pupuk makro NPK. Pemberian pupuk daun dilakukan pada saat tanaman sudah tumbuh daun dengan cara disemprotkan pada daun, dan pada tanaman yang diberi pupuk makro NPK pemupukan diberikan dengan cara ditanam didalam tanah setelah tanaman tumbuh.

Dari uji coba ini diperoleh hasil bahwa ketinggian tanaman yang diberi dengan pupuk makro NPK mempunyai rata-rata yang lebih tinggi dibanding dengan tanaman yang diberi pupuk daun atau sama sekali tidak diberi pupuk. Hasil lain diperlihatkan pada tanaman yang diberi pupuk daun, daun yang tumbuh lebih banyak dan pertumbuhan daunnya lebih cepat dibandingkan dengan tanaman yang diberi pupuk makro NPK atau tanpa perlakuan apapun.

v     KESIMPULAN

Dapat diperoleh suatu kesimpulan bahwa suatu tanaman dapat tunbuh dengan baik apabila asupan hara dan zat-zat yang diperlukan oleh tanaman itu tercukupi. Salah satu caranya yaitu dengan dilakukannya pemupukan. Pemupukan merupakan cara yang cukup efektif untuk dapat menghasilkan tanaman yang baik, apabila kita didalam memberi pupuk tersebut sesuai dengan dosis tidak berlebihan atau kurang.

DAFTAR PUSTAKA

Rinsema, W.T. 1983. Pupuk dan Cara Pemupukan. . Bharatara Karya   Aksara. Jakarta

www.kompos2.tripod.com. Diakses pada tanggal 11 Juni 2008

www.pusri.wordpress.com. Diakses pada tanggal 11 Juni 2008

ACARA 4

PENGENALAN PRODUK YANG DIHASILKAN PADA IKLIM YANG BERBEDA

v     TUJUAN

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh iklim dan tempat tumbuh yang berbeda terhadap kualitas hasil.

v     PUSTAKA

Iklim dan cuaca merupakan faktor penentu utama bagi pertumbuhan dan produktifitas suatu  tanaman pangan. Tanaman di dalam kehidupannya memiliki daya tanggap yang berbeda-beda terhadap iklim di sekitarnya. Tanaman sangat peka terhadap perubahan cuaca yang ada. Petani selalu berhadapan dengan adanya perubahan iklim. Hal ini yang menjadikan suatu pemilihan lokasi yang tepat untuk berbagai tanaman terutama sayuran sangat diperlukan yang disesuaikan dengan keadaan iklim setempat.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman yang berkaitan dengan iklim diantaranya adalah sinar matahari,suhu,curah hujan dan juga lengas air.

Jumlah sinar matahari efektif yang digunakan oleh tanaman tergantung pada type tanaman itu sendiri. Beberapa tanaman memberikan hasil yang baik di kawasan yang mempunyai penyinaran matahari agak rendah, lainnya memberikan hasil yang paling baik atau kualitas yang paling tinggi dengan penyinaran matahari yang tinggi.

Suhu yang berlaku pada musim yang berbeda, sangat mempengaruhi masa kemasakan jenis sayuran. Di daerah dalam batas 10 sampai 15 derajat lintang utara dan selatan dari garis equator, hanya sedikit atau tidak ada variasi musiman dan kemasakan sayuran yang tidak dipengaruhi oleh fotoperiode adalah kurang lebih sama sepanjang tahun. Sudah tentu perbedan antara musim terpanas dan terdingin pada garis lintang yang lebih tinggi mempengaruhi type sayuran yang diusahakan dan juga pergiliran tanamannya, dan produksi yang seragam tidaklah mungkin. Suhu maksimum dan minimum yang menyokong pertumbuhan tanaman biasanya berkisar antara 5 – 35o C.

Di daerah tropika, iklim bervariasi dari selalu basah sampai kering. Pada waktu curah hujan tertinggi secara musiman, hal ini mungkin disebabkan karena terjadinya angin musiman. ada tanaman yang menghendaki daerah basah dan ada pula yang menghendaki daerah yang relatif kering untuk tempat tumbuhnya. Curah hujan merupakan salah satu tolak ukur ketersediaan air bagi tanaman pada suatu lokasi (Williams,C.N.1993)

Iklim sangatlah mempengaruhi kondisi dan hasil dari suatu tanaman, terutama tanaman sayuran. Dapat dicontohkan seperti yang dapat dilihat  pada tanaman sayuran seperti wortel dan tomat.

Tomat adalah salah satu jenis tanaman yang sefamili dengan terong, cabe dan kentang yaitu famili Solanaceae. Umumnya petani mengenal tomat ada dua macam tipe pertumbuhan yaitu determinate (pendek) dan indeterminate (tinggi). Adanya perbedaan tipe tersebut membawa konsekuensi yang berbeda pula dari segi penanganan di lapang/teknik budidaya, Masing-masing tipe memiliki keunggulan sendiri. Namun, pemilihan tipe tumbuh itu sendiri tergantung dari beberapa faktor diantaranya : pola tanam, biaya dan kesesuaian adaptasi lingkungan. Di Indonesia tomat yang bertipe determinate biasanya ditanam di dataran rendah. Sedangkan tipe indeterminate biasanya ditanam di dataran tinggi. Kebiasaan ini berkaitan dengan pola tanaman yang diterapkan yaitu padi-padi-sayuran/palawija atau padi- sayuran/palawija- padi atau yang lebih sering kita kenal dengan sistem tumpangsari. Sistem tumpang sari merupakan sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan, dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling. (www.bbsdlp.litbang.deptan.go.id. 2008 ). Sedangkan di dataran tinggi tidak demikian sehingga mereka punya waktu yang lebih lama untuk menanam jenis tanaman sayuran khususnya tomat indeterminate yang memiliki umur relatif lebih lama dibandingkan tipe determinate. Dilihat dari masa panennya, tomat indeterminate akan memiliki masa panen yang lebih lama yaitu bisa mencapai lebih dari 12 kali panen, sedangkan tipe determinate antara 8 – 10 kali masa panen (http://www.tanindo.com.2008). Tomat secara umum dapat ditanam di dataran rendah, medium, dan tinggi, tergantung varietasnya. Namun, kebanyakan varietas tomat hasilnya lebih memuaskan apabila ditanam di dataran tinggi yang sejuk dan kering sebab tomat tidak tahan panas terik dan  hujan. Suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah 23°C pada siang hari dan 17°C pada malam hari. Tanah yang dikehendaki adalah tanah bertekstur liat yang banyak mengandung pasir. Dan, akan lebih disukai bila tanah itu banyak mengandung humus, gembur, sarang, dan berdrainase baik. Sedangkan keasaman tanah yang ideal untuknya adalah netral, yaitu sekitar 6-7. (www.iptek.net.id.2008 ). Pada dasarnya tomat dapat juga ditanam dengan hasil yang baik di dataran rendah dengan budidaya pasir atau dengan menyambungkannya di atas batang bawah yang tahan.                                             Sama halnya dengan tanaman tomat, tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) juga merupakan tanaman yang ditanam pada daerah tropika. Tanaman ini merupakan herba (tanaman pendek tidak berkayu) semusim dan menyukai iklim yang sejuk. Di daerah tropis cocok ditanam di dataran tinggi. Kentang dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik bila ditanam pada kondisi lingkungan yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya. Keadaan iklim dan tanah merupakan hal penting yang perlu diperhatikan, di samping faktor penunjang lainnya. Kentang dapat tumbuh dengan baik di dataran tinggi antara 500-3.000 m dpl. Dan, yang terbaik adalah pada ketinggian 1.300 m dpl dengan suhu relatif sekitar 20°C. Selain, itu daerah dengan curah hujan 200-300 mm setiap bulan atau 1.000 mm selama masa pertumbuhan kentang merupakan daerah yang baik untuk pertumbuhan kentang.

v     BAHAN DAN ALAT

¨      Bahan

  1. Produk tanaman pangan hortikultura ( kentang, tomat )

¨      Alat

  1. Pisau

v     CARA KERJA

1.   Mengambil 2 jenis kentang (yang satu kentang besar yaitu kentang yang ditanam pada di daerah dataran tinggi (pada tanah ladang) dan yang satunya lagi kentang kecil yaitu kentang yang ditanam di daerah dataran rendah).

2.   Mengamati kedua jenis kentang tersebut satu per satu secara visual mengenai warna, bentuk, ukuran, dsb.

3.   Setelah itu, mengiris kedua jenis kentang tersebut satu persatu, kemudian mengamati bagian dalamnya mengenai sifat fisik, flavour( rasa), dsb.

4.   Mencatat semua hasil pengamatan kentang tersebut ke dalam data pengamatan kemudian membandingkannya.

5.   Melakukan hal yang sama untuk tomat dan tomat yang digunakan disini merupakan tomat yang ditanam pada daerah dataran tinggi yang terbuka dan tomat yang ditanam pada daerah dataran tinggi dengan cara tumpang sari.

v     HASIL PENGAMATAN

¨      Tomat

Jenis tomat

Pengamatan

Dataran tinggi dengan cara tumpang sari

Dataran tinggi yang terbuka

Warna

Pucat

Cerah

Kandungan Air

Sedikit

Banyak air

Biji

Sedikit

Banyak

Daging buah

Sedikit

Lebih banyak

Flavour

Lebih manis

Masam

Kekerasan

Lunak

Lebih keras

Warna

Kuning orange

Merah

Ukuran rata – rata

Lebih kecil

Lebih besar

Gambar irisan

¨      Kentang

Jenis Kentang

Pengamatan

Dataran Rendah

Dataran tinggi

Ukuran

Kecil

Besar

Kulit

Lebih tipis

Lebih tebal

Warna

Lebih putih

Kuning

Kekerasan

Lebih keras

Lunak

Flavour

Lebih manis

Manis

v     PEMBAHASAN

Di dalam uji coba kali ini digunakan dua macam jenis sayuran tropika yaitu tomat dan kentang. Tomat yang digunakan yaitu ada dua macam yaitu yang ditanam pada daerah dataran tinggi yang terbuka dan tomat yang ditanam pada daerah dataran tinggi dengan cara tumpang sari. Pada pengamatan ini menunjukkan adanya suatu perbedaan dari tomat yang dihasilkan pada daerah dataran tinggi yang terbuka dengan dataran tinggi dengan sisten tumpang sari, perbedaan ini dapat dilihat dari segi fisiknya yaitu warna pada tomat yang ditanaam di datarn tinggi terbuka lebih cerah (hijau orange) dibandingkan dengan tomat yang menggunakan sistem tumpang sari dalam penanamannya yang warnanya lebih pucat (kuning orange). Selain itu dapat dilihat dari kandungan airnya, tanaman tomat dengan sistem tumpang sari kandungan airnya lebih sedikit dibanding tomat di dataran tinggi terbuka. Hal lain juga dapat dilihat dari segi rasa, rasa yang dimiliki oleh tomat dengan sistem tumpang sari lebih manis dibandingkan dengan tomat di dataran tinggi terbuka yang rasanya masam. Pada segi daging buahpun tomat dengan sistem tumpang sari lebih sedikit daripada tomat dataran tinggi terbuka. Tomat dengan sistem tumpang sari lebih lunak dibandingkan dengan tomat di datarn tinggi terbuka. Dari segi ukuran tomat di dataran tinggi lebih besar dibandingkan dengan tomat pada sistem tumpang sari. Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa tomat di daerah dataran tinggi terbuka lebih baik dibandingkan dengan tomat sistem tumpang sari.

Perbandingan juga dilakukan pada kentang yang berada di daerah dataran rendah dengan yang berada di dataran tnggi. Kentang di dataran tinggi ukurannya lebih besar daripada kentang dataran rendah. Kulit kentang yang dihasilkan di dataran rendah lebih tipis apabila dibanding kentang di dataran tinngi. Warna kentang di dataran rendah lebih putih atau bisa dikatakan pucat dibandingkan dengan kentang di daerah dataran tinggi yang berwarna kuning. Dari segi kekerasan buah, kentang yang ditanam di dataran tinggi lebih lunak dibandingkan dengan kentang di dataran rendah. Indera perasa (lidah) kita juga dapat membandingkan perbandingan rasa yang dimiliki oleh kedua kentang tersebut. Sebenarnya rasa kentang di dataran rendah dengan kentang yang dihasilkan di dataran tinggi sama-sama manis, tapi apabila dibandingkan kentang di dataran rendah memiliki rasa yang lebih manis.

v     KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa iklim sangat mempengaruhi hasil dari dari suatu tanaman. Hal ini dapat dilihat dari segi ukuran, ketebalan kulit, rasa yang dimiliki, kadar air, warna dan juga kekerasan. Iklim sangat mempengaruhi mutu atau kualitas dari tanaman yang dihasilkan. Hal ini dapat diliahat pada tanaman sayuran kentang dan tomat. Tanaman kentang memang cocok ditanam di daerah yang berada di dataran tinggi, ini dapat dibuktikan dengan bentuk fisik dari tanaman kentang yang ditanam di daerah dataran tinggi lebih baik daripada yang ditanam di daerah dataran rendah. Keadaan lain juga dibuktikan oleh tanaman tomat, tomat yang dihasilkan di dataran tinggi terbuka lebih baik dibandingkan dengan tanaman tomat yang ditanam dengan sisten tumpang sari.

DAFTAR PUSTAKA

Wahyu,Bernardinus. 2002. Bertanam Tomat.Yogyakarta : Kanisius

Williams, C.N. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropis Yogyakarta: Gadjah                                     Mada University Press.

www..bbsdlp.litbang.deptan.go.id. Diakses pada tanggal 11 Juni 2008

www.iptek.net.id. Diakses pada tanggal 11 Juni 2008

www.tanindo.com. Diakses pada tanggal 11 Juni 2008

ACARA 5

PENGAMATAN ANTAR VARIETAS YANG BERBEDA

v     TUJUAN

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh genetika terhadap hasil tanaman.

v     PUSTAKA

Di dalam alam semesta ini, berbagai jenis tanaman dicipatakan. Banyak sekali varietas-varietas tanaman yang terdapat di bumi ini. Varietas yang bermacam-macam ini disebabkan oleh adanya suatu faktor genetika. Salah satunya tanaman yang banyak varietasnya adalah sayuran.Sayuran seperti wortel dan mentimun mempunyai berbagai varietas yang sangat bermacam-macam.

Wortel (Daucus carota) merupakan tanaman subtropis yang memerlukan suhu dingin (22-24° C), lembap, dan cukup sinar matahari. Di Indonesia kondisi seperti itu biasanya terdapat di daerah berketinggian antara 1.200-1.500 m dpl. Sekarang wortel sudah dapat ditanam di daerah berketinggian 600 m dpl. Dianjurkan untuk menanam wortel pada tanah yang subur, gembur dan kaya humus dengan pH antara 5,5-6,5. Tanah yang kurang subur masih dapat ditanami wortel asalkan dilakukan pemupukan intensif. Kebanyakan tanah dataran tinggi di Indonesia mempunyai pH rendah. Bila demikian, tanah perlu dikapur, karena tanah yang asam menghambat perkembangan umbi (http://www.iptek.net.id.2008).

Mentimun,  timun, atau ketimun (Cucumis sativus L.; suku labu-labuan atau Cucurbitaceae) merupakan tumbuhan yang menghasilkan buah yang dapat dimakan. Buahnya biasanya dipanen ketika belum masak benar untuk dijadikan sayuran atau penyegar, tergantung jenisnya. Mentimun dapat ditemukan di berbagai hidangan dari seluruh dunia dan memiliki kandungan air yang cukup banyak di dalamnya sehingga berfungsi menyejukkan. Potongan buah mentimun  juga digunakan untuk membantu melembabkan wajah. Buah berwarna hijau ketika muda dengan larik-larik putih kekuningan. Semakin buah masak warna luar buah berubah menjadi hijau pucat sampai putih. Bentuk buah memanjang seperti torpedo. Daging buanya perkembangan dari bagian mesokarp, berwarna kuning pucat sampai jingga terang. Buah dipanen ketika masih setengah masak dan biji belum masak fisiologi. Buah yang masak biasanya mengering dan biji dipanen, warnanya hitam (http://www.wikipedia.com.2008).

v     BAHAN DAN ALAT

¨      Bahan

  1. Produk tanaman pangan hortikultura ( wortel, mentimun )

¨      Alat

  1. Pisau

v     CARA KERJA

  1. Mengambil 2 jenis wortel (yaitu wortel yang berukuran panjang/tipis dan wortel yang berukuran bulat/tebal).
  2. Mengamati kedua jenis wortel tersebut satu per satu secara visual mengenai ukuran, warna, bentuk, ukuran, sifat fisik dan ciri-ciri lainnya.
  3. Setelah itu, mengiris kedua jenis wortel tersebut satu persatu, kemudian mengamati bagian dalamnya mengenai sifat fisik, flavour, rasa, dsb.
  4. Mencatat semua hasil pengamatan wortel tersebut ke dalam data pengamatan kemudian membandingkannya.
  5. Melakukan hal yang sama untuk mentimun dimana mentimun yang digunakan disini adalah mentimun jenis jepang dan mentimun jenis lokal.

v     HASIL PENGAMATAN

¨Wortel

Jenis Wortel

Pengamatan

Wortel A

Wortel B

  • o Bentuk dan Ukuran

Panjang dan Tipis

Bulat dan Pendek

  • o Warna

Orange Gelap

Orange Cerah

  • o Kekerasan

Keras

Lebih Keras

  • o Kemulusan

Kasar

Lebih Mulus

  • o Aroma

Tidak Beraroma

Lebih wangi

  • o Penampang Melintang

  • Penampang Membujur

¨            Mentimun

Jenis Wortel

Pengamatan

Wortel A

Wortel B

  • o Bentuk dan Ukuran

Besar dan lonjong

Lebih Kecil dan ujungnya lancip

  • o Warna

Hijau Tua

Hijau Keputihan

  • o Kemulusan

Lebih mulus

Tidak mulus, pada permukaan kulit kasar, terdapat bintil-bintil

  • o Daging

Tebal

Lebih tipis

  • o Kandungan air
Lebih banyak Lebih sedikit
  • o Rasa
Lebih manis Kurang manis

  • o Penampang Melintang

  • Penampang Membujur

v     PEMBAHASAN

Dari kegiatan pengamatan yang dilakukan terhadap wortel dan mentimun kali ini, disediakan dua macam varietas wortel yaitu wortel A dan wortel B, hal sedemikian juga dilakukan dengan menyediakan mentimun jepang dan juga mentimun lokal.

Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa wortel A mempunyai bentuk panjang dan tipis, warna orange gelap dan keras, selain itu teksturnya kasar dan tidak beraroma. Sedamgkan pada wortel B mempunyai bentuk bulat dan pendek, warnanya orange cerah dan lebih keras dibanding dengan wortel A, tekstur lebih halus, dan dari segi aroma juga wangi.

Pengamatan juga dilakukan pada dua varietas timun yang disebut timun A dan timun B. Timun A yaitu timun Jepang berwarna hijau gelap, bentuknya besar, lebih panjang, dari ujung batang ke ujung lainnya ukurannya sama, teksturnya lebih mulus, garis yang tampak pada kulit luar terlihat jelas, daging buahnya tebal, rasa yang manis, aromanya lebih segar, dan kandungan airnya lebih banyak. Sedangkan timun B yaitu timun lokal, memiliki warna hijau keputihan, bentuk yang lebih kecil, pendek, dari ujung batang ke ujung lainnya ukurannya berbeda, teksturnya tidak mulus, banyak bintil, garis yang terlihat pada kulit luar tidak terlalu jelas, daging buahnya lebih tipis, rasa yang kurang manis, aroma yang kurang segar, dan kandungan airnya lebih sedikit.

Dari hasil pengamatan itu dapat dilihat bahwa faktor genetik yang menyebabkan adanya berbagai macam varietas yang ada tersebut. Perbedaan ini meliputi dari bentuk dsn ukuran,warna,rasa,aroma,kandungan air dan sebagainya.

v     KESIMPULAN

Adanya perbedaan genetika suatu tanaman akan menghasilkan varietas yang berbeda dari tanaman tersebut. Tiap varietas memiliki ciri khas masing-masing yang membedakan antara varietas satu dengan varietas yang lain. Pada dua varietas wortel yang dibandingkan terdapat perbedaan pada warna, bentuk, tekstur, rasa, ujung, serta bentuk penampang. Sedangkan pada dua varietas timun yang dibandingkan dapat dilihat perbedaan pada warna, bentuk, tekstur, garis pada kulit luar,, daging buah, rasa, aroma, dan kandungan airnya.

DAFTAR PUSTAKA

Rukmana, Rahmat, Ir.1995.Bertanam Wortel.Yogyakarta:Kanisius.

www.iptek.net.id. Diakses pada tanggal 12 Juni 2008

www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 12 Juni 2008

About these ads
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.